Revolusi Model Pendidikan

Revolusi Model Pendidikan

Krisis multidimensi yang menimpa Indonesia sudah berlangsung selama 10 tahun, dan hingga hari ini krisis itu belum betul-betul hilang dari beban kehidupan mayoritas bangsa Indonesia.

Terbukti, masih banyak keluarga miskin yang susah untuk menghidupi keluarganya dan mencukupi kebutuhan pokoknya. Meskipun pemerintah sering mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi makro menunjukkan hal yang positif, ekonomi mikro sangat tampak stagnan dengan fakta masih banyaknya pengangguran dan sulitnya mencari lapangan kerja.Dalam hal ini, dunia pendidikan juga terkena dampak langsung dari krisis itu.Tidak heran, jika penduduk Indonesia yang mampu mengecap pendidikan menengah masih sangat rendah.

Apalagi yang mampu menempuh pendidikan tinggi, tentu lebih sedikit lagi jumlahnya. Untuk menolong dan memajukan pendidikan agar dapat diakses seluruh warga negara Indonesia, tentu dibutuhkan terobosan jitu. Bila mengandalkan model pendidikan yang konvensional saja, niscaya angka putus sekolah dan yang tidak mengikuti pendidikan dasar secara tuntas agar terus bertambah atau tidak berkurang. Ditambah lagi, biaya pendidikan sekarang ini sangat mahal dan sulit digapai sebagian masyarakat kecil. Maka, konsep e-Learning sebetulnya bisa menjadi solusi alternatif terhadap kondisi pendidikan dan upaya memajukan serta mencerdaskan rakyat Indonesia.

Apalagi, sekarang ini e-Learning juga sudah banyak menjadi komponen yang sangat esensial dalam pendidikan. Globalisasi, yang juga bisa berarti proliferasi (pengembangbiakan) informasi, memungkinkan internet dan pentingnya pengetahuan berbasis pada ekonomi yang mempunyai tambahan secara lengkap pada dimensi baru pengajaran dan pembelajaran. Banyak guru, siswa-siswa, trainers, dan institusi-institusi yang memakai pembelajaran online yang merupakan kebutuhan untuk sumber-sumber yang akan diujikan dan diinformasikan.

Mungkin banyak definisi tentang e- Learning yang sudah dikemukakan dalam banyak tulisan tentang subjek ini, tetapi semua pembicaraan itu mempunyai fokus dan ciri-ciri yang sama. Di sini bisa diambilkan salah satu contoh definisi dari the European e-Learning Action Plan, yaitu “penggunaan teknologi multimedia baru dan internet untuk memperbaiki kualitas belajar dengan memfasilitasi akses-akses ke sumbersumber dan peralatan sebagai perubahan yang terjauh dan kerja sama”. Di sini kita bisa menyebut tentang teknologi elektronik, sebagai sarana alat pendidikan dan sumber daya, dan sebagai saluran untuk kerja sama dan komunikasi.

Jika kita ingin lebih tegas dan fokus pada pokok masalahnya, bagaimanapun, definisi lebih jauh kita ingin melihat e-Learning secara sederhana sebagai: online access to learning resources, anywhere and anytime (Bryn Holmes and John Gardner, e-Learning, Concepts and Practice, (London: Sage Publications, 2006). Dari definisi e-Learning di atas, tampak bahwa teknologi multimedia dan internet adalah seperangkat alat belajar yang sangat dibutuhkan dalam proses keberhasilan belajar mengajar ini.

Apalagi, dalam globalisasi definisi antara guru dan murid serta media belajar sudah melampaui sekat-sekat waktu dan tempat. Boleh jadi, ada orang yang belajar tentang ilmu membuat bensin yang ramah dengan lingkungan, tidak perlu lagi melakukan kursus di ITB atau IPB. Namun, mereka cukup mencari informasinya di internet, kemudian mempelajarinya secara autodidak, kemudian melatihnya dan menerapkannya sampai betul-betul berhasil.

Begitu juga dengan orang meracik makanan yang sehat dan mencerdaskan bagi bayi, tidak perlu lagi belajar atau bertanya sama dokter anak atau bidan terusmenerus, tetapi bisa dengan mencari informasinya di internet dan kemudian mencobanya. Seperti yang dilakukan siswa-siswa di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah di Salatiga, mereka belajar tentang menggunakan pupuk organik atau reproduksi hewan dengan mengakses infonya dari internet, untuk kemudian mempraktikkannya di lapangan.

Masih banyak lagi hal yang bisa diperoleh dari internet, termasuk juga info tentang nama kitab, temuan, dan karya terbaru dalam bidang Fikih,Tasawuf, teknologi tepat guna, dan sebagainya. Yang jelas, dalam e-Learning ini, konsep guru, murid, dan alat pembelajaran sudah bersifat maya dan melampaui bentuk yang formal dan baku. E-Learning menawarkan kesempatan baru pada pengajar dan pendidik untuk memperkaya pengalaman mengajar dan belajar mereka,melalui lingkungan virtual yang tidak yang mendukung pada penyampaian tapi juga pada eksplorasi dan penerapan informasi dan promosi atas pengetahuan baru.

Yang dibutuhkan di sini adalah kombinasi antara informasi digital dan teknologi komunikasi, seperti broadcast, video mobil, audio, telekomunikasi, grafik 3 dimensi, email, web, dan objek yang melihat antarwajah. Semuanya itu bisa didesain untuk mendukung, menciptakan, dan mengirim pengalaman pendidikan yang penting dan lingkungannya. Banyaknya perhatian terhadap kurangnya tatap muka (face to face) memberikan naiknya kebutuhan dalam banyak konteks untuk mencampur model e-Learning,mungkin bisa berupa “at a distance”. Selain itu, banyak tatap muka pembelajaran konvensional di dalam kelas yang dinamai dengan proses “blended learning”. E-Learning memungkinkan para pembelajar untuk memiliki banyak pilihan yang lebih mudah dipraktikkan dan dimungkinkan secara ekonomis.

Penjelasan di atas menunjukkan,bahwa dalam e-Learning, proses belajar-mengajar sangat longgar dan tidak terikat aturan tertentu.Bahkan,bisa dimungkinkan menggunakan model distance learning, dan bisa juga model konvensional dalam kelas. Yang lebih utama, sebetulnya adalah alat pembelajaran yang digunakan, yaitu internet dan teknologi komunikasi modern yang memungkinkan anak didik dapat mencerap banyak ilmu pengetahuan baru.

E-Learning ini juga sering disebut orang sebagai an educational revolution. Soalnya, dalam e-Learning memungkinkan kita untuk: mengakses lebih banyak pengetahuan dibandingkan sebelumnya, menjadi keterampilan belajar baru pada abad ke-21, bisa memaksimalkan kesempatan belajar melalui teknologi informasi dan internet, bisa menciptakan pentingnya masyarakat yang belajar seumur hidup, dan pengakuan atas berbagai keinginan dan kebutuhan generasi internet. Dari kelebihan-kelebihan itu tampak, bahwa model pembelajaran e-Learning adalah jawaban terhadap kebutuhan dan realitas masyarakat abad ke-21 yang sangat membutuhkan dan bergaul erat dengan internet dan teknologi komunikasi.

Bagi lembaga pendidikan, keinginan menjadikan lembaganya sebagai pusat pembelajaran jarak jauh dan e-Learning, tentu bukan impian yang jauh dari kenyataan, namun sebuah cita-cita yang realistis untuk diwujudkan. Asalkan ada niat dan kemauan serta usaha keras, cita-cita itu akan gampang terwujud menjadi kenyataan. Selain SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah di Salatiga, contoh nyata dari lembaga pendidikan yang sudah menerapkan e-Learning sebagai model pembelajaran adalah Pondok Pesantren Daarut Tauhiid pimpinan KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym di Gegerkalong, Bandung.

Selain mempunyai banyak usaha mulai dari warnet, swalayan, rumah studio, penerbit buku, pengajian MQ, MQ Synergy training, MQ Children’s and Youth training, dan masih banyak lagi, Daarut Tauhiid juga mempunyai MQ FM Radio. MQ FM Radio yang bekerja sama dengan Paramadina Radio 93,3 FM ini, setiap hari menyiarkan dakwah dari Aa Gym. Para pendengar radio itu, dengan tekun menyimak pengajian yang disampaikan Aa Gym dan mengaku sebagai santrinya, tentunya secara virtual. Bahkan, ketika diadakan program kencleng umat, banyak jamaah yang antusias menyumbang dan hasilnya pada tahun 1999 MQ FM berhasil mendirikan radio sendiri.

Pesantren Daarut Tauhiid ini juga bermaksud mengawinkan antara model pesantren tradisional dan penggunaan internet sehingga dikenal dengan sebutan pesantren virtual Daarut Tauhiid. Penggunaan term virtual pesantren di Daarut Tauhiid ini, juga bermaksud membumikan ide bahwa lembaga ini tidak ada batasannya, baik secara fisik maupun budaya. Jadi semua orang bisa nyantri di DT, meski tidak secara fisik. Ini juga dimaksudkan untuk membangun jaringan global dengan menggunakan bantuan teknologi media digital baru. Maka, santri di sini adalah mereka yang mencari informasi dan berhubungan di level global.

Oleh karenanya, pertukaran informasi pun, mengambil tempat lebih banyak di web dan internet, dibandingkan dengan tatap muka langsung (Zaky Nur’aini, “Pesantren Daarut Tauhiid: Virtual Pesantren in the Global Era”, IIS Program UIN Jakarta, 2006). Pada pesantren Daarut Tauhiid itu, tampak bahwa sebetulnya konsep e- Learning bukan hal yang susah untuk diterapkan dan dijalankan. Dan konsep itu, pada dasarnya juga tidak akan mengurangi aktivitas pengajaran yang menjadi ciri khas lembaga pendidikan. Justru, audiensi dan lingkupnya menjadi sangat luas dan tidak terbatas. Bila e-Learning ini bisa diwujudkan dan diusahakan lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia, tampaknya optimisme masa depan pendidikan bangsa ini akan lebih mencuat lagi.Wallahu a’lam bisshawab.(*)

http://unisosdem.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: